fbpx

Waktu Terbaik Berdialog dengan Alloh

shape
shape
shape
shape
shape
shape
shape
shape

Ada cukup banyak waktu yang memiliki nilai lebih daripada waktu lainnya di mana doa-doa kita pada waktu-waktu tersebut lebih besar kemungkinan dikabulkannya daripada pada waktu yang lain. Di antara waktu-waktu itu adalah:

1. Sepertiga terakhir malam.
Yakni setelah lewat pertengahan malam, kira-kira mulai pukul 02.00 dinihari sampai menjelang Subuh. Ini berdasarkan riwayat hadis di mana Rasulullah saw. bersabda, “Allah tabâraka wa ta‘âlâ turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa (mana) hamba-Ku yang berdoa untuk Aku kabulkan, siapa (mana) hamba-Ku yang meminta untuk Aku akan beri permintaannya, siapa (mana) hamba-Ku yang memohon ampun untuk Aku ampuni dosanya.’” (HR. Bukhari). Allah seolah mencari hamba-Nya yang berdoa pada sepertiga terakhir malam itu. Kesimpulan bahwa waktu itu adalah salah satu waktu terbaik dan mustajab untuk berdoa disimpulkan dari firman Allah itu. Allah yang turun ke bumi mendatangi kita yang memohon pada waktu seperti itu.

Perlu kita catat di sini bahwa “turun”-nya Tuhan ke bumi pada sepertiga terakhir malam jangan kita pahami dengan logika kita. Ini logika Tuhan. Sebab, kalau kita pahami dengan logika kita, akal kita akan mengatakan bumi itu bulat, sepertiga malam di Jakarta bukan sepertiga malam di Kairo. Itu artinya sepanjang waktu pastilah waktu sepertiga malam untuk daerah-daerah tertentu yang berbeda. Artinya lagi, Tuhan sibuk berkeliling dunia. Tidak demikian. Allah tidak serupa dengan makhluk.

2. Waktu di akhir salat
(dalam redaksi hadisnya disebut dubur ash-shalâh). Ada dua pemahaman terkait makna kata dubur ini. Pertama, di akhir salat setelah tasyahud terakhir dan sebelum salam dan, kedua, setelah salam pada waktu zikir dan wirid. Kedua-duanya boleh saja. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. Suatu ketika ada orang bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, doa mana yang paling didengar (oleh Allah)?” Beliau menjawab, “(Doa yang dipanjatkan) pada keheningan malam dan pada setiap akhir (dubur) salat wajib.” (HR At-Tirmidzi).

Tetapi, makna dubur ash-shalâh setelah selesai salat (setelah salam) itu juga kuat sekali. Banyak redaksi hadis yang menyebutkan secara jelas bahwa dubur ash-shalâh artinya setelah salam. Dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah r.a., misalnya, diriwayatkan bahwa sejumlah sahabat mengadu kepada Rasulullah saw., “Orang-orang kaya beruntung sekali mendapat derajat yang tinggi.” Rasul saw. bertanya, “Apa maksud kalian?” Mereka menjawab, “Orang-orang kaya itu melakukan salat seperti kami, mereka juga berjihad seperti kami, dan berinfak dari kelebihan harta mereka sementara kami tidak punya harta untuk kami infakkan.” Rasulullah saw. kemudian menjawab, “Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang jika kalian lakukan kalian dapat menyaingi derajat orang-orang sebelum kamu dan orang-orang setelah kamu, dan tidak ada seorang pun yang memperoleh derajat seperti itu kecuali jika mereka melakukan seperti apa yang kalian lakukan. Yaitu, bertasbih pada setiap akhir salat (dubur ash-shalâh) sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali.” (HR Bukhari). Dalam riwayat Imam Bukhari juga, versi yang berbeda, disebutkan tasbih, tahmid, dan takbir itu sebanyak tiga puluh tiga kali.

Mengapa waktu setelah salat juga begitu istimewa, antara lain karena pada waktu itu kita sedang atau baru saja terhubung dengan Allah. Memang, setiap saat kita bisa saja terhubung dengan Allah selama kita mengingat-Nya, tetapi keterhubungan kita dengan Allah pada waktu salat itu sangt spesial, sangat khusus, karena pada waktu itu kita tidak melakukan aktivitas apa pun selain berdialog dengan Allah melalui salat, zikir, dan doa.

3. Waktu di antara azan dan qamat (ikamat).
Waktu yang pendek, biasanya tidak lebih dari sepuluh menit. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Doa di antara azan dan ikamat tidak ditolak.” (HR At-Tirmidzi). “Tidak ditolak” tentu saja mengandung arti “diterima”. Hadis ini sekaligus juga mengandung anjuran untuk bersegera datang ke masjid untuk salat berjamaah agar dapat menggunakan waktu antara azan dan ikamat untuk berdoa yang terbaik.

4. Waktu di antara khutbah pertama dan kutbah kedua pada salat Jumat.
Ini pun biasanya sangat pendek, boleh jadi bahkan kurang dari lima menit. Terkait hal ini Rasulullah saw. bersabda, “Padanya (pada hari Jumat) ada satu waktu yang kalau seorang muslim yang salat dan meminta sesuatu kepada Allah pada waktu itu pasti diberikan oleh-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Memang dalam redaksi hadis ini tidak disebutkan secara spesifik waktu antara azan dan ikamat, tetapi dalam penjelasan Imam An-Nawawi (yang mensyarah atau menjelaskan hadis-hadis dalam kitab Shahîh Muslim), menukil pendapat Abu Musa Al-Asy‘ariy r.a. (salah seorang sahabat Nabi saw.), yang dimaksud dengan waktu mustajab pada hari Jumat itu adalah mulai khatib naik mimbar sampai selesai dan turun dari mimbar. Hanya saja, ada keharusan kita untuk mendengarkan khutbah Jumat, sehingga kemudian makna waktu itu adalah di antara dua khutbah.

5. Waktu ketika minum air zamzam.
Ini berlaku ketika kita berada di tanah suci untuk ibadah haji dan umrah maupun berada di tanah air. Selama kita meminum air zamzam, ketika itu doa akan dikabulkan. Ini berdasarkan hadis Nabi saw., “Air zamzam adalah untuk doa yang diniatkan.” (HR Ahmad). Maksudnya, jika kita berniat meminta keberkahan rezeki ketika hendak meminum air zamzam, maka permintaan kita itu akan didengar dan dikabulkan oleh Allah.

Kalau kita bertanya mengapa demikian, sangat boleh jadi karena air zamzam adalah air khusus yang tidak terdapat di bumi lain selain di Mekah. Air yang penuh keberkahan.

6. Waktu sujud ketika sedang salat.
Ini berdasarkan hadis Nabi saw., “Waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa pada waktu itu.” (HR Muslim). Ini pun ada yang memahaminya setiap sujud dalam salat, ada pula yang memahami hanya pada sujud terakhir. Yang berpendapat bahwa sujud dimaksud adalah sujud terakhir biasanya memanjangkan sujudnya dengan memperbanyak doa. Tetapi, kesimpulan bahwa sujud dimaksud adalah sujud terakhir itu tidak kuat, karena redaksi hadis tidak menyebutkan secara khusus waktu sujud terakhir. Yang lebih tepat adalah waktu setiap sujud.

Hanya saja di sini ada catatan. Ketika kita salat berjamaah sebagai makmum, lalu kita ingin berdoa pada waktu sujud, kita tetap terikat oleh gerakan imam. Kalau imam sudah mengatakan “Allahu Akbar” bangun dari sujud, kita tidak perlu berlama-lama sujud dengan alasan memperbanyak doa. Sebab, kalau itu kita lakukan, kita dinilai tidak patuh pada imam. Seseorang dijadikan imam itu adalah untuk diikuti, untuk dipatuhi. Imam sujud, kita sujud; imam bangun, kita bangun. Begitu juga, ketika kita salat berjamaah sebagai imam, kita tidak perlu memperpanjang sujud kita dengan alasan memperbanyak doa, sebab boleh jadi di belakang kita ada makmum yang tidak kuat berlama-lama, atau ada keperluan segera setalah salat.

7. Ketika kita mendengar ayam berkokok.
Ini berdasarkan hadis Nabi saw., “Apabila kalian mendengar kokok ayam, mohonlah (mintalah) keutamaan dari Allah, karena saat itu ayam sedang melihat malaikat.” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut hadis ini, ayam berkokok karena melihat malaikat. Itu artinya, jika kita berdoa memohon sesuatu pada saat itu, doa kita akan diaminkan oleh malaikat, dan tentu saja doa yang turut diaminkan oleh malaikat lebih besar peluang terkabulnya daripada yang tidak diaminkan oleh malaikat.

8. Pada waktu azan, atau pada saat pertama lantunan azan.
Ini berdasarkan hadis Nabi saw., “Ada dua waktu di mana doa tidak tertolak, yaitu ketika azan dan ketika turun hujan.” (HR Abu Dawud). Dalam riwayat yang lain bahkan disebutkan redaksi doa yang sebaiknya kita panjatkan pada saat pertama kali lafal azan dikumandangkan. Dalam riwayat yang lain itu disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang pada saat mendengar azan mengucap ‘Asyhadu an lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, radhîtu billâhi rabban wa bil islâmi dînan wa bi muhammadin nabiyya’, maka dia akan diampuni.” (HR At-Thabarani). Ucapan itu sendiri berarti ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad nabiku.

9. Pada saat turun hujan (awal turunnya hujan).
Ini berdasarkan hadis yang sama seperti pada nomor 8. Hujan sering disebut sebagai rahmat. Turunnya hujan berarti turunnya rahmat Allah (berupa air yang menjadi sebab hdiupnya makhluk-makhluk Tuhan). Berdoa pada saat turunnya hujan berarti juga mensyukuri turunnya rahmat Allah yang begitu besar itu.

10. Ketika kita mendapat musibah.
Dalam sebuah hadis yang bersumber dari Ummu Salamah r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak ada seorang muslim yang terkena musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah [innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn, Ya Allah berilah aku pahala pada musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya], kecuali Allah akan mengganti musibah dengan sesuatu yang lebih baik untuknya.’” (HR Muslim).

11. Waktu wukuf pada hari Arafah.
Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang aku dan nabi-nabi sebelumku ucapkan adalah lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr. (HR At-Tirmidzi).

Menurut pendapat banyak ulama, peluang terkabulnya doa pada saat wukuf ini juga terbuka untuk umat Islam secara umum, tidak hanya mereka yang sedang berwukuf. Wukuf di Arafah adalah tanggal 9 Zulhijah di mana pada hari itu umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji disunahkan untuk berpuasa.

12. Waktu ketika kita berpuasa,
baik puasa Ramadan, puasa nazar, ataupun puasa-puasa sunah. Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak. Orang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang terzalimi.” (HR At-Tirmidzi).

Ini berlaku sepanjang hari mulai Subuh sampai Magrib saat berbuka puasa. Karena itu, tidak jarang kita temukan orang saleh yang mempunyai hajat tertentu biasa melakukan puasa sunah (Senin-Kamis, misalnya), dengan maksud agar doa-doa yang dipanjatkan pada saat dia sedang berpuasa benar-benar dikabulkan oleh Allah.

13. Waktu ketika kita terbangun tidur di malam hari.
Ini berdasarkan hadis Nabi saw., “Siapa yang terbangun tidur pada malam hari, lalu dia menucap lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah, lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, al-hamdu lllâh, subhânallâh, lâ ilâha illallâh, dan Allâhu Akbar, kemudian dia memohon ampun atau berdoa memohon sesuatu, maka akan dikabulkan. Jika ia kemudian berwudu dan melakukan salat malam, salatnya akan diterima.” (HR Bukhari).

Ini terkait dengan keutamaan waktu malam tadi. Jika kita terbangun pada malam hari, sangat boleh jadi itu adalah cara Tuhan “memanggil” kita untuk mendekat kepada-Nya. Kalau kita sudah dipanggil, Tuhan sendiri sudah mendekat kepada kita, tentu permohonan kita pada saat itu besar sekali kemungkinan terkabulnya.

14. Waktu sesaat setelah matahari siang sedikit bergeser ke barat, sebelum masuk watu Zuhur.
Diriwayatkan dari Abdullah bin As-Sa’ib bahwa Rasulullah saw. salat empat rakaat setelah matahari bergeser ke barat sebelum (salat) Zuhur, lalu beliau bersabda, “Waktu ini adalah waktu ketika pintu-pintu langit terbuka, dan aku ingin ketika itu amal-amal baikku naik ke langit.” (HR At-Tirmidzi). Termasuk dalam amal baik itu adalah doa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Dan lain-lain masih ada lagi.

#ePesantren #IndowebGroup #AplikasiPondokPesantren #SoftwarePondokPesantren #Pondok #Pesantren #PondokPesantren #PesantrenStory #Pesantrenku #Ponpes #AyoMondok #Santri #Santrikeren #SantriIndonesia #Santrihits #Santriwati #AlaSantri #Islam #Muslim #NU #NahdlatulUlama #Muhammadiyah #Ulama #Ustadz #Dakwah #info #ulama #tips

Tim CS kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!